Communication Protocol for Dummies

 

Bagi orang dengan background Information Technology atau Industrial Automation, mungkin istilah protocol begitu popular, sehingga tidak memerlukan penjelasan lagi jika terjadi diskusi yang hangat untuk membahas masalah komunikasi antar aplikasi, baik di dunia IT maupun di dunia otomasi industri. Tapi bagi orang awam, tentu sangat susah untuk menjelaskan apa itu protocol.

 

Ada begitu banyak protocol yang ada di pasar saat ini untuk aplikasi otomasi industri. Mulai dari yang serial semacam modbus, DH+, sampai yang berbasis TCP seperti Ethernet IP, ProfiNet maupun Modbus TCP.

 

Protokol seringkali dipakai dalam aplikasi otomasi industri untuk mengintegrasikan berbagai macam PLC atau DCS untuk bisa saling berkomunikasi. Secara gampang (ini artikel for dummies…), protocol bisa disamakan dengan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Kita bisa bayangkan kalau ada orang dari Jawa dan Sumatra sedang dalam perundingan dan masing-masing hanya menguasai bahasa mereka sendiri. Yang terjadi adalah saling ketidak pahaman yang ujung-ujungnya membuat mereka frustasi. Untuk menjembatani hal tersebut, ada 2 hal yang bisa dilakukan.

 

Yang pertama adalah membawa penerjemah, sehingga masing-masing pihak bisa memahami lawan bicaranya setelah ‘dilewatkan’ penerjemah. Jadi ada konversi bahasa dari bahasa Jawa ke Sumatra dan sebaliknya.

 

Cara yang kedua adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang dipahami oleh keduanya, sehingga tidak perlu ada penerjemah karena masing-masing memakai bahasa yang sama.

 

Sekarang bayangkan kalau yang berdiskusi adalah dewan PBB yang dihadiri oleh lebih dari 100 negara. Berapa banyak penerjemah yang harus dibawah karena masing-masing pembicara harus memahami lebih dari 100 bahasa untuk bisa memahami keinginan tiap peserta. Jadi bagaimana solusinya? Untungnya PBB punya ‘common language’  lebih universal yaitu bahasa Inggris yang dianggap bisa dipahami oleh ‘sebagian besar’ peserta (saya belum berani bilang semua).

 

Kita kembali ke otomasi industri. Kenyataan yang ada di lapangan adalah bahwa masing-masing vendor PLC atau DCS memiliki bahasa yang berbeda berdasarkan design yang mereka bikin sendiri, sehingga proses integrasi melibatkan proses yang lebih rumit.

 

Dalam bahasa otomasi industri, proses penerjemahan bisa diibaratkan sebagai proses pengubahan dari satu protocol ke protocol yang lain. Sebagai contoh, PLC berbasis Allen Bradley memakai protocol Device Net akan diintegrasikan dengan PLC Modicon yang memakai protocol Modbus. Dibutuhkan protocol converter untuk menerjemahkan dari Device net ke Modbus dan sebaliknya.

 

Sekarang bayangkan kalau PLC dan DCS yang akan diintegrasikan lebih banyak lagi, kira-kira mirip ilustrasi di PBB diatasJ. Harus ada ‘common protocol’yang bisa berfungsi sebagaimana bahasa Inggris dalam kasus diatas. Dari hasil kesepakatan banyak PLC dan DCS vendor, akhirnya salah satu kesepakatan adalah mengembangkan protocol yang lebih universal yaitu OPC. OLE for Process Control di desain dengan spesifikasi yang disepakati oleh sebagian besar vendor (saya tidak berani bilang semua..). Dengan OPC, proses integrasi diantara berbegai protocol menjadi sederhana sebagaimana bahasa Inggris diaplikasikan di sidang PBB diatas. Apa dan bagaimana OPC, akan disambung di artikel mendatang.

 

Bintaro

Tonny Leonard